pinisi (lukisan tanah liat)

pinisi (lukisan tanah liat)

Sabtu, 12 Mei 2012

Semangat Jihad Seorang Kader Dakwah


Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu Alaikum Wr.Wb.

Sebagai seorang aktivis dakwah yang baru lahir, saya masih sangat awam mengenai masalah pergerakan mahasiswa. Apa sih tujuannya….?? Paling aksi mengkritik kebijakan pemerintah. Trus aksinya di jalan lagi, buat macet lah, kerusuhan lah, sampai-sampai bentrok dengan polisi.

Gak ada gunanya dehhh…..!!!

Yaaa itu pendapat saya sebelum mengenal apa itu sebenarnya pergerakan mahasiswa. Ternyata peran mahasiswa sangatlah penting dalam membangun bangsa ini. Karena mahasiswa adalah usia saat kita sebagai seorang pemuda memiliki gejolak semangat yang sangat tinggi. Sehingga ketika dihadapkan pada suatu permasalahan, pemuda cenderung kritis terhadap apa yang dipandangnya kurang sesuai dengan apa yang dia pikirkan. Namun pergerakan pemuda khususnya mahasiswa ini memerlukan suatu wadah yang dapat mengarahkan mahasiswa untuk bergerak. Bukan asal bergerak asal-asalan tanpa tujuan yang jelas, tapi suatu pergerakan yang memang memiliki landasan ideologi yang benar dan jelas sehingga nantinya akan menghasilkan mahasiswa yang berkualitas sehingga dapat membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Pertama kali saya mengenal pergerakan mahasiswa secara riil ketika saya kuliah di Kampus STKS Bandung. Saya menentukan pilihan untuk bergabung di salah satu wadah pergerakan mahasiswa muslim yaitu KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia). Awalnya saya beranggapan, dari namanya saja tercantum kata “AKSI”, berarti sama donk dengan organisasi pergerakan mahasiswa lainnya…? Pasti kerjanya cuman aksi turun ke jalan….!! waddduuuhhhh…….!!! Namun anggapan saya lambat laun sirna ketika saya mengenal lebih jauh apa itu sejatinya KAMMI.

Ternyata KAMMI bukan hanya sekedar aksi turun ke jalan, di KAMMI saya diajarkan banyak hal terutama tentang agama Islam. Dan yang paling berbekas di hati saya yaitu “Ukhuwwah Islamiyah” atau dalam bahasa Indonesia disebut “Persaudaraan antara Umat Islam”. Kita sebagai umat muslim disatukan dalam Islam tanpa memandang status sosial, jabatan, umur, kekayaan, dan lain-lain. Dan hal itu sangat saya rasa ketika saya mengikuti DM (Daurah Marhalah) 1 yang dilaksanakan KAMMI ITB. Jujur pada saat itu pertama kalinya saya melaksanakan shalat tahajjud. Saya tersadar betapa rendahnya saya di hadapan Sang Pencipta. Saya tersadar betapa banyaknya dosa-dosa yang saya perbuat selama ini. Betapa lalainya saya terhadap perintah-perintah Allah. Dan saat DM 1 juga saya mengucurkan air mata bahagia penuh haru. Air mata anak bangsa yang merindukan perdamaian di negerinya. Air mata seorang saudara yang rindu perjuangan bersama saudaranya.  Air mata seorang mujahid……!!!

Ikrar Mujahid
  • Jika ada 1000 orang yang berjihad di jalan Allah, maka salah satunya adalah aku
  • Jika ada 100 orang yang berjihad di jalan Allah, maka salah satunya adalah aku
  • Jika ada 10 orang yang berjihad di jalan Allah, maka salah satunya adalah aku
  • Jika hanya ada 1 orang yang berjihad di jalan Allah, maka itu adalah aku
  • Dan jika sudah tidak ada lagi orang yang berjihad di jalan Allah, maka saksikanlah aku telah mati SYAHID
Begitu luar biasa makna dari ikrar tersebut. Setelah memahaminya secara mendalam, saya bahkan semua orang yang membacanya berkesimpulan bahwa diharapkan pribadi kita masing-masing adalah makhluk terakhir di alam semesta ini yang berjihad di Jalan Allah…..!!!
 

Selasa, 01 Mei 2012

"MAKASSAR" Awal Masuknya Islam Di Kerajaan Gowa

Assalamu Alaikum Wr.Wb.

Sahabat dakwah sekalian, selama ini banyak yang beranggapan bahwa manusia yang lahir dan berasal dari MAKASSAR adalah orang-orang yang KASAR dan menakutkan. wajarlah karena mereka yang beranggapan begitu hanya menilai orang berdasarkan apa yang mereka dengar, bukan apa yang mereka alami.Kita tidak akan tahu bahwa gula itu manis ketika kita belum mencobanya, itu pulalah yang terjadi terhadap anggapan mereka kepada orang-orang makassar. Padahal setelah melalui beberapa pengalaman dengan orang-orang Makassar, banyak dari mereka yang berubah anggapan setelah mengenal lebih dekat Makassar. Tapi tahu gak...? ternyata kata "MAKASSAR" itu merupakan tonggak awal masuknya agama Islam di Kerajaan Gowa, Sulawesi Selatan, begini kisahnya:

Tiga hari berturut-turut Baginda Raja Tallo ke-VI Mangkubumi Kerajaan Gowa, I Mallingkaang Daeng Mannyonri KaraEng Katangka yang merangkap Tuma'bicara Butta ri Gowa (lahir tahun 1573), bermimpi melihat cahaya bersinar yang muncul dari Tallo. Cahaya kemilau nan indah itu memancar keseluruh Butta Gowa lalu ke negeri sahabat lainnya.
Bersamaan di malam ketiga itu, yakni malam Jum'at tanggal 9 Jumadil Awal 1014 H atau tanggal 22 September 1605 M. (Darwa rasyid MS., Peristiwa Tahun-tahun Bersejarah Sulawesi Selatan dari Abad ke XIV s/d XIX, hal.36), di bibir pantai Tallo merapat sebuah perahu kecil. Layarnya terbuat dari sorban, berkibar kencang. Nampak sesosok lelaki menambatkan perahunya lalu melakukan gerakan-gerakan aneh. Lelaki itu ternyata melakukan sholat. Cahaya yang terpancar dari tubuh Ielaki itu menjadikan pemandangan yang menggemparkan penduduk Tallo, yang sontak ramai membicarakannya hingga sampai ke telinga Baginda KaraEng Katangka. Di pagi buta itu, Baginda bergegas ke pantai. Tapi tiba-tiba lelaki itu sudah muncul ‘menghadang’ di gerbang istana. Berjubah putih dengan sorban berwarna hijau. Wajahnya teduh. Seluruh tubuhnya memancarkan cahaya. Lelaki itu menjabat tangan Baginda Raja yang tengah kaku lantaran takjub. Digenggamnya tangan itu lalu menulis kalimat di telapak tangan Baginda "Perlihatkan tulisan ini pada lelaki yang sebentar lagi datang merapat di pantai,” perintah lelaki itu lalu menghilang begitu saja. Baginda terperanjat. la meraba-raba matanya untuk memastikan ia tidak sedang bermimpi. Dilihatnya telapak tangannya tulisan itu ternyata jelas adanya. Baginda KaraEng Katangka lalu bergegas ke pantai. Betul saja, seorang lelaki tampak tengah menambat perahu, dan menyambut kedatangan beliau.
Singkat cerita, Baginda menceritakan pengalamannya tadi dan menunjukkan tulisan di telapak tangannya pada lelaki itu. “Berbahagialah Baginda. Tulisan ini adalah dua kalimat syahadat,” kata lelaki itu. Adapun lelaki yang menuliskannya adalah Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassallam sendiri. Baginda Nabi telah menampakkan diri di Negeri Baginda.
Peristiwa ini dipercaya sebagai jejak sejarah asal-usul nama "Makassar", yakni diambil dari nama "Akkasaraki Nabbiya", artinya Nabi menampakkan diri. Adapun lelaki yang mendarat di pantai Tallo itu adalah Abdul Ma'mur Khatib Tunggal yang dikenal sebagai Dato' ri Bandang, berasal dari Kota Tengah (Minangkabau, Sumatera Barat). Baginda Raja Tallo I Mallingkaang Daeng Manyonri KaraEng Katangka setelah memeluk Agama Islam kemudian bergelar Sultan Abdullah Awaluddin Awawul Islam KaraEng Tallo Tumenanga ri Agamana. Beliau adalah Raja pertama yang memeluk agama Islam di dataran Sulawesi Selatan.
Lebih jauh, penyusuran asal nama "Makassar" dapat ditinjau dari beberapa segi, yaitu:

1. Makna. Untuk menjadi manusia sempurna perlu "Ampakasaraki", yaitu menjelmakan (menjasmanikan) apa yang terkandung dalam bathin itu diwujudkan dengan perbuatan. "Mangkasarak" mewujudkan dirinya sebagai manusia sempurna dengan ajaran TAO atau TAU (ilmu keyakinan bathin). Bukan seperti yang dipahami sebagian orang bahwa "Mangkasarak" orang kasar yang mudah tersinggung. Sebenarnya orang yang mudah tersinggung itu adalah orang yang halus perasaannya.
2. Sejarah. Sumber-sumber Portugis pada permulaan abad ke-16 telah mencatat nama "Makassar". Abad ke-16 "Makassar” sudah menjadi ibu kota Kerajaan Gowa. Dan pada Abad itu pula, Makassar sebagai ibu kota sudah dikenal oleh bangsa asing. Bahkan dalam syair ke-14 Nagarakertagama karangan Prapanca (1365) nama Makassar telah tercantum.
3. Bahasa. Dari segi Etimologi (Daeng Ngewa, 1972:1-2), Makassar berasal dati kata "Mangkasarak" yang terdiri atas dua morfem ikat "mang" dan morfem bebas "kasarak". Morfem ikat "mang" mengandung arti: a). Memiliki sifat seperti yang terkandung dalam kata dasarnya. b). Menjadi atau menjelmakan diri seperti yang dinyatakan oleh kata dasarnya. ­Morfem bebas "kasarak" mengandung (arti: a). Terang, nyata, jelas, tegas. b). Nampak dari penjelasan. c). Besar (lawan kecil atau halus). Jadi, kata "Mangkasarak" Mengandung arti memiliki sifat besar (mulia) dan berterus terang (Jujur). Sebagai nama, orang yang memiliki sifat atau karakter "Mangkasarak" berarti orang tersebut besar (mulia), berterus terang (Jujur). Sebagaimana di bibir begitu pula di hati.
John A.F. Schut dalam buku "De Volken van Nederlandsch lndie" jilid I yang beracara : De Makassaren en Boegineezen, menyatakan: "Angkuh bagaikan gunung-gunungnya, megah bagaikan alamnya, yang sungai­sungainya di daerah-daerah nan tinggi mengalir cepat, garang tak tertundukkan, terutama pada musim hujan; air-air terjun tertumpah mendidih, membusa, bergelora, kerap menyala hingga amarah yang tak memandang apa-apa dan siapa-siapa. Tetapi sebagaimana juga sungai, gunung nan garang berakhir tenang semakin ia mendekati pantai. Demikian pulalah orang Bugis dan Makassar, dalam ketenangan dapat menerima apa yang baik dan indah".
Dalam ungkapan "Akkana Mangkasarak", maksudnya berkata terus terang, meski pahit, dengan penuh keberanian dan rasa tanggung jawab. Dengan kata "Mangkasarak" ini dapatlah dikenal bahwa kalau dia diperlakukan baik, ia lebih baik. Kalau diperlakukan dengan halus, dia lebih halus, dan kalau dia dihormati, maka dia akan lebih hormat.